Filsafat dari Youtube v1
awal
1-113
Para lunas nu kasuhun wingalih, nu dipamri ajrih, kapihatur kaang rumuhun Gusti Nu Maha Suci, hang murbeng alam nu ngawasa sadaya alam: alam bihari, alam kiwari, jeung alam po isuk. Alam karampa, alam karasa, jagat beurang, jagat peuting.
Mugia kasepuhan, abah sepuh kahiji, abah sepuh kadua, ngauban urang sadayana. Hiliwirna angin jadi pitutur hirup, muga mulya, waluya salawasna, pun sapun sapun rahayu.
[[Para hadirin yang dimuliakan, yang disapa dengan penuh hormat, dengan rasa takut dan takzim, dipersembahkan kepada Yang Mahamulia, Gusti Yang Maha Suci, penguasa alam yang menguasai seluruh jagat raya: alam dahulu, alam sekarang, dan alam nanti. Alam yang tampak, alam yang terasa, dunia siang, dunia malam.
Semoga para kasepuhan, abah sepuh pertama, abah sepuh kedua, menaungi kita semua. Hembusan angin menjadi petuah hidup, semoga mulia, sejahtera selamanya, bahagia dan selamat sentosa]].
Kalimat ini sering dianggap kalimat buhun, dianggap tidak bermakna, dan dianggap bukan kalimat filsafat. Karena kita terlalu terdogmatis oleh kerangka berpikir formalisme beragama dan formalisme akademik.
Tadinya saya ingin berbicara dalam bahasa Sunda, tapi karena direkam, sekarang banyak yang tidak mengerti lalu masuk ke TikTok. Jadi saya gunakan bahasa Indonesia saja, supaya nanti orang Jakarta atau orang dari mana-mana mengerti. Dunia digital itu dibaca oleh banyak orang, agar tidak salah tafsir. Apalagi sekarang sedang musimnya orang memotong-motong kalimat saya demi kepentingan elektoral.
Pertama, para kesepuhan. Kenapa saya menyebut Abah Sepuh Kahiji, Abah Sepuh Kadua? Karena dalam perspektif teologis yang saya miliki, Abah Anom itu ketika jumeneng, ketika sudah tidak ada maka dia menjadi abah sepuh dan disepuhkan. Maka si Sultan Hamong Kubono itu selalu disebut Hamong Kubono 1, 2, dan 3.
Dalam pandangan saya, abah sepuh kahiji, abah sepuh kadua, abah sepuh katilu, abah sepuh kaopat adalah mereka yang dituakan, orang-orang yang disepuhkan. Negeri ini banyak pemimpi, banyak birokrat, banyak politisi, banyak sarjana, profesor, doktor, insinyur. Tetapi yang sulit adalah mencari orang yang benar-benar disepuhkan, yang benar-benar dituakan.
Perspektif ini juga ada dalam pandangan lingkungan. Kalau kita bicara manajemen, apa sih problem Sunda hari ini? Perlu dipahami, Sunda itu bukan Jawa Barat. Jawa Barat itu terlalu kecil untuk disundakan. Sunda itu adalah sebuah nilai universal yang mengajarkan tentang hidup dan kehidupan.
Saya tidak duduk di kursi ini karena ini bukan tempat duduk saya. Dalam perspektif kebudayaan, orang-orang yang berkebudayaan itu ada kategorinya. Kadang disebut Brahmana, Sudra, atau Waisa.
Bagi saya, kursi ini adalah tempat duduk Brahmana. Sedangkan saya ini kategorinya adalah kesatria. Kalau kesatria sejajar dengan Brahmana itu berbahaya, karena Brahmana sudah punya kasta tersendiri.
Kalau dalam era kerajaan Pajajaran, Brahmana itu disimpan di altar. Mereka adalah orang-orang yang sudah tidak lagi berpikir tentang kepentingan pribadinya. Tidak lagi butuh cerita tentang makanan, pakaian, kendaraan, kampus, dan kebutuhannya.
Kalau mereka berjejer dengan kesatria, maka kesatria akan memenuhi kebutuhannya, dan Brahmana akhirnya digiring mengikuti kepentingan kesatria. Itu sangat berbahaya.
Betapa tidak, nilai-nilai akademis itu harus netral, harus nol. Nol bukan berarti kosong, tapi nol dalam arti bersih. Namun, nilai itu sering didegradasi dengan bantuan komputer agar mengikuti keinginan kementerian agama, atau didegradasi dengan bantuan gedung kampus agar mengikuti keinginan pemimpinnya.
Menurut saya, ini berbahaya ketika kaum Brahmana—orang-orang yang duduk dalam singgasana lauhul mahfudz tingkat tinggi, di alam ide—turun mengikuti kebutuhan praktis. Aristoteles mengatakan, orang di alam ide itu ada pada tingkat yang tinggi, tapi jika diturunkan pada kebutuhan praktis, itu berbahaya.
Karena itu, saya menyampaikan, ini era Pilkada. Janganlah pesantren-pesantren dan kampus-kampus menyatakan dukungan pada perseorangan. Itu kalimat yang menyesatkan dan berbahaya. Karena suatu saat ketika negara dalam keadaan genting, negara tidak punya orang-orang yang netral, orang-orang yang bersih untuk meluruskan kepentingannya.
113-203
Karena apa? Karena semua orang tidak akan pernah mengikuti. Jangan pernah dengar omongan dari Suryalaya hanya karena pendukungnya Dede Mulyadi, itu berbahaya.
Saya termasuk orang yang tidak pernah mau meminta dukungan dari ulama. Kenapa ulama harus mendukung siapa pun? Mereka cukup menjalankan titah-titah kebenaran sesuai dengan jalan Allah dan Rasulullah.
Mari kita luruskan negeri ini ke arah yang lebih sempurna. Tidak boleh terlibat dalam partisan. Andai kata pun ada anak atau cucu yang ikut dalam politik, sebaiknya ucapkan begini: “Empek wae incu ama anak ama neangan pendukung ku sorangan. Ulah mama mawa ama. Ama mah rek ngilu nuturkeun saha wae, rek nuduhkeun ka saha wae asal jelema aya di jalan bener.”
Ini cara saya hari ini. Makanya kalau ciri-ciri pemilu itu gampang: makin banyak orang datang ke pesantren, itulah tanda menjelang pemilu. Dan di situ biasanya dijanjikan akan dibangun gedung ini atau itu. Silakan saja bangun, karena itu memang kewajiban negara. Jangan dikaitkan dengan dukungan dan pilihan politik. Tidak usah.
Kemudian yang kedua, saya ingin bercerita tentang kesedihan saya. Bagi saya, walaupun mungkin tidak terlibat dalam sebuah organisasi di Suryalaya, saya selalu memahami bahwa roh orang-orang saleh itu tidak pernah dibatasi oleh organisasi TQN. Roh itu tidak ada struktur jabatannya.
Bagi saya, roh itu akan selalu dekat dengan orang-orang yang dalam dirinya ada kalbu yang terbuka untuk dihinggapi.
Saya kalau masuk TQN, air mata saya selalu jatuh. Kenapa? Karena tempat ini walaupun sederhana, memancarkan aura spiritual, bukan aura ritual. Aura spiritual itu terpancar dan selalu masuk ke relung hati saya, seakan berkata: “Geral Ujang, geura balik Ujang.”
Makanya kalimat manajemen awal saya tadi adalah: alam bihari, alam kiwari, alam poe isuk. Apa artinya? Alam bihari, alam kiwari, alam poe isuk bagi saya adalah satu kesatuan alam, bukan alam yang terpisah.
Karena itu satu kesatuan, maka setiap manusia dalam setiap waktu harus mendialogkan dirinya dengan alam biharinya. Bagaimana mungkin manusia tidak mendialogkan dengan alam biharinya? Kalau tidak, ia tidak akan pernah bertemu dengan pemilik kebirahian. Ia akan bertemu dengan pemilik alam asalnya.
Orang Sunda menyebutnya mulih kajati, mulang ka asal. Itu sering dimaknai sebagai kematian. Tapi bagi saya, mulih kajati mulang ka asal adalah kembali pada jati dirinya: siapa dia, ada di mana, dan akan ke mana. Maka ke mana pun ia pergi, ia tidak akan pernah jauh dari alam asalnya.
Alam asal spiritual orang Sunda tidak akan pernah terlepas dari alam asal spiritualnya Abah. Itu alam asalnya. Ari Abah téh saha? Jirimna anu boga jirim, sa nu boga asalna.
Maka bagi saya, kemursyidan itu bukan formalisme.
205-309
Bagi saya, masuk ke alam kemursyidan itu bukan soal formalisme. Ketika kemursyidan hanya menjadi formalisme, itu berbahaya. Banyak orang menjadikan baju-baju kemursyidan sebagai penutup dirinya. Itu sama bahayanya seperti ketika zaman reformasi dulu. Pada masa Pak Harto, orang asal masuk partai baru langsung disebut reformis. Padahal sejatinya hanya “cuci gudang.”
Alam kemursyidan itu sesungguhnya adalah alam bawah sadar. Dari alam bawah sadar itulah muncul alam kesadaran. Dan alam kesadaran itu adalah alam mahabah, alam cinta. Dalam pandangan saya, alam mahabah ini memiliki dua tingkatan.
Pertama, ada kalimat orang Sunda yang sering disalahpahami secara teologis. Orang Sunda kadang dianggap kafir, musyrik, atau bertentangan dengan prinsip keislaman. Padahal sesungguhnya orang Sunda diajarkan: “Geura ngaraji ka jero, ulah ngarajina ka luar.” Karena kalau rajinya keluar, tidak akan pernah jadi “orok.” Yang menjadi orok itu justru yang “kajero.” Yang keluar itu hanya menstruasi, kotoran.
Maka jika ingin benar-benar menjadi, jalannya harus “kajero.” Orang Sunda bahkan sejak awal sudah menamakan dirinya dengan kalimat diri jisim kuring.
Kalimat jisim kuring ini terdiri dari tiga penggalan. Pertama adalah jirim, yaitu badan kita. Orang Sunda menyebutnya awak sakujur, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tidak ada dalam bahasa Indonesia ungkapan seindah ini.
Bayangkan, orang Sunda sudah menempatkan dirinya dalam kerangka kesucian diri. Rambut harus suci, seluruh tubuh harus suci. Bahkan ketika menyentuh rambut saja, itu sudah dianggap bagian dari kesucian wudhu. Jadi orang Sunda itu tidak perlu terlalu banyak didalilkan. Kalau masih butuh dalil, itu tandanya belum masuk ke alam kesadaran.
Jangan sombong ketika berkata, “Dalilnya ini, dalilnya itu.” Kalau sudah masuk ke alam kesadaran, tidak perlu lagi terlalu mencari dalil. Kesadaran itu sendiri sudah menjadi dalil. Pada titik itu manusia tidak lagi ribut dengan simbol-simbol lahiriah, melainkan benar-benar menghadapkan diri kepada Yang Maha Agung.
Sayangnya, banyak orang masih berhenti pada alam ragawi. Misalnya saat puasa, masih sibuk menunggu sahur, diingatkan dengan pengeras suara, masih menunggu azan untuk berbuka. Itu tanda masih berada di alam jasmani. Kalau sudah masuk ke alam rohani, tidak akan lagi gelisah menunggu sahur atau berbuka. Semua akan datang dengan sendirinya.
Orang Sunda juga punya tata cara hidup yang sederhana tapi penuh makna. Cara mandi misalnya, tidak perlu diajarkan lagi. Cukup dengan teuleum—menyelam ke dalam air, maka seluruh tubuh akan bersih. Begitu pula dalam kehidupan spiritual. Kalau benar-benar ingin bersih, jangan hanya “ambul-ambulan” di permukaan, tapi benar-benar “teuleum” ke dalam. Karena pada waktunya, orang yang sudah terbenam dalam spiritualitas itulah yang ucapannya dan panitahnya akan diminta.
Kalimat ti luhur sausap rambut, di handap sahibas dampal mengandung arti bahwa kepala harus selalu bersih, kaki harus selalu bersih, pikiran harus bersih, dan tindakan pun harus bersih.
Kalimat sederhana ini menggambarkan kesempurnaan hidup: bisa berjalan di bumi seakan-akan mengapak awan, bisa melangkah di atas air. Itu sudah masuk pada tingkatan kemahabrataan dalam kebudayaan Sunda.
310-420
Ah, itu yang kedua adalah jirim isim. Nah, ini isim.
Isim itu oleh orang-orang Cina, oleh orang-orang Korea, oleh orang Amerika diterjemahkan menjadi SIM card, cip. Itulah yang bisa mengendalikan handphone, yang bisa menggantikan sistem. Itulah percakapan yang sudah dihapus pun tidak bisa benar-benar hilang, tetap bisa dibuka.
Maka percakapan yang sudah dihapus pun, seperti kasus Pina 2016, tetap bisa dibuka percakapannya. Kenapa? Karena pencatatannya tidak akan hilang, bahkan titik koma pun tidak. Dalam diri manusia itu ada isimnya, yang mencatat seluruh percakapan, yang terucap maupun yang tidak terucap. Semua akan senantiasa tercatat. Tidak ada penghapusan dosa karena catatannya hilang. Jadi, kita mendapatkan dari Allah Rahman dan Rahim, bukan catatan yang dihapus, tapi karena diampuni.
Punten, misalnya ada murid yang biasa saja, tapi karena setiap hari rajin melayani gurunya, menyapu, mengepel, membuatkan kopi, akhirnya gurunya sayang. Ujang naik bukan karena pintarnya, tapi karena kebaikannya. Itu sederhana.
Jangan kepada Allah kita bersikap seolah-olah bisa “menyuap”. Jangan merasa sombong minta surga sekarang juga. Karena isim itu berada di dalam. Maka jirim harus nyambung dengan isimnya.
Bagaimana supaya isim itu tetap ada kartu, pulsa, kuota? Ya, dengan hidup sederhana. Kudu makan sebelum lapar, tidur sebelum mengantuk, bangun sebelum kesiangan, berhenti sebelum kenyang. Itu sederhana.
Orang Sunda bilang, mahasiswa sekarang sederhana enggak? Kalau hanya belajar teori manajemen 70 buku pun tidak akan sukses. Paling bisa hanya hafalan akademik. Kunci sukses itu ada pada soft skill, sikap, budi pekerti—itulah jirim dan isim.
Kalimatnya sederhana: Ujang tidak akan mendapat hasil kalau tidak bersungguh-sungguh. Harus tahan banting, kerja keras.
Dede Mulyadi misalnya, suka baca buku sampai pusing. Padahal rumus hidup dari dulu itu saja: tahan banting, kerja keras. Orang bertanya kenapa badannya bisa ideal? Karena mengurangi tidur, mengurangi makan. Itu kunci kesuksesan.
Kenapa orang Sunda tidak maju dagangnya seperti orang Cina? Karena suka pamer. Baru dapat proyek miliaran sudah langsung berlagak, padahal masih rugi. Baru dapat penghasilan 100 juta sudah ganti mobil dan motor.
Lihat orang Cina, sebelum punya tujuh toko masih makan bubur. Dari malam mereka sudah bangun, memikirkan usahanya. Kenapa orang Sunda sulit berhasil? Karena harus mengubah ismena—mindset-nya. Dari orang tua sudah diajarkan: pelan-pelan tapi konsisten. Yang penting kerja dulu, meski kecil. Jangan bicara soal pekerjaan besar, karena yang besar itu berasal dari yang kecil.
Jarum dibuat oleh Cina, resleting dibuat oleh Cina, yang kecil-kecil saja mereka ambil. Jangan salahkan orang Cina. Kalau yang kecil saja tidak berani mengerjakan, bagaimana mau langsung yang besar? Jangan tiba-tiba mau jadi anggota DPR RI. Mulai dari kabupaten dulu.
Jangan juga ingin langsung jadi mursyid. Biarkan soal mursyid atau bukan itu urusan Allah. Kalau kita mengaku mursyid, justru berarti bukan mursyid.
Kalimatnya begini: hidup ini hanya sementara. Semua tergantung kehendak Allah. Yang penting bukan kita, tapi Allah. Maka jangan sok merasa paling. Jangan pura-pura intelektual. Ciri orang intelektual katanya botak dan berkacamata tebal. Padahal bisa saja botak itu karena terlalu mikirin sampai istrinya kabur.
421-497
Sunah kacamata tebal. Kacamata tebal itu memang penyakit, tapi sering dianggap ciri intelektual. Oh, katanya itu ciri intelektual. Lalu ciri orang yang hasan iman? Gondrong, badan tidak terurus, jenggotan kemana-mana. Menurut siapa? Kalau begitu, orang Pakistan semua seniman karena gondrong dan berjenggot.
Ciri orang saleh? Pakai baju gamis kemana-mana, bawa tasbih ke mana saja. Assalamualaikum, assalamualaikum. Menurut siapa? Itu hanya simbol.
Kalau ciri orang mursyid bagaimana? Saciduh metu saucap nyata — sekali berucap, langsung terjadi. Ngomong sedikit tapi semua orang nurut. Itulah mursyid. Kalau ngomong tapi tidak didengar orang lain, itu bukan mursyid.
Jadi di mana adanya mursyid itu? Bukan anak buncir, bukan anak janggotan, bukan anak tumbal. Bukan pula yang dikejar tidak terkejar. Yang ada hanyalah orang biasa, bukan simbol-simbol itu. Tidak perlu dicari-cari, nanti juga akan ketemu. Tidak perlu diakui, nanti pun orang lain akan mengakui. Kalau masih butuh pengakuan, berarti masih ada kebutuhan. Sedangkan mursyid sejati sudah tidak punya kebutuhan lagi.
Nah, saya jadi merasa pagahan (terhibur). Jadi, hentikanlah perspektif kita yang sempit itu.
Ciri orang kaya apa? Gampang, katanya pakai jas, pakai dasi. Bungar (bergaya) begitu. Menurut siapa? Ketua yayasan saja pakai dasi, tapi komputer saja belum lunas.
Itu hanya baju. Di Amerika, ada orang nyapu jalan raya, selesai nyapu pakai jas berdasi, lalu makan di restoran. Itu hanya baju. Kenapa? Karena udaranya dingin, memang harus pakai jas dan dasi agar tidak kedinginan.
Baju itu hanya simbol. Di Arab, semua orang pakai gamis. Masuk ke gereja pun pakai gamis. Benar tidak? Betul kan? Sama saja. Itu hanya baju. Baju itu mengikuti tempat dan kebutuhan. Tidak mungkin orang mencangkul pakai gamis, tidak mungkin juga ngojeg pakai gamis.
Baju itu hanya sesuai kebutuhan. Salat pakai gamis, silakan, itu urusan pribadi masing-masing. Tapi jangan suka meremehkan baju orang lain, karena belum tentu baju itu cocok untuk diri kita.
Orang lain bilang logor (longgar), kita bilang sereng (ketat), jangan mengukur orang lain dengan baju kita. Ukurlah dengan diri sendiri.
Kalau kita sedang bicara, lalu orang lain tertidur, jangan merasa sakit hati. Bisa jadi ucapan kita justru mengantarkan dia ke tidurnya.
498-595
Lalawora teuing, hese bisa sare téh nu baleunghar. Nepi ka kudu nginum obat sare. Tapi bisa jadi sabenerna peutingna kurang sare lantaran nungguan indungna gering. Jadi ulah salah sangka.
Geus, ayeuna mah ibu bade barobo. Mangga. Itu sawios.
Nah, éta isim anu kuring. Anu kuring mah nya anu kuring. Anu boga kurung geus tong diaku-aku.
Jadi soft skill nu diajarkeun Abah TQN téh ngajarkeun kemajuan.
Kemajuan naon? Kemampuan urang dina pagawéan, dinilai sacara akademis. Ieu anu disebut élmu pangaweruh. Élmu bakal ngajadikeun urang multitalenta lamun miboga rasa.
Rasa bakal ngalahirkeun karsa. Karsa bakal ngalahirkeun karya. Jadi sagala karya asalna tina karsa, sedengkeun karsa asalna tina rasa.
Ceuk Abah, rasa téh disebut manah. Ari manah téh raja. Lantaran jadi raja, manah bakal ngalahirkeun papat kalima pancer: panon ku awasna, irung ku angsuna, ceuli ku danguna, létah ku ucapna.
Mun nyarita didengekeun ku rasa, bakal karasa ku jiwa. Mun nyarita ngan ukur asup ti ceuli kénca kaluar ti ceuli katuhu, hartina henteu karasa.
Ku sabab kitu, unggal poe Abah ngajarkeun menekung. Dina dunya industri, pakakas pangheulana nu kudu aya dina diri urang nyaéta kamampuhan rasa.
Kamampuhan rasa bakal ngalahirkeun kauletan. Kaulinan ulet bakal ngahasilkeun dua sipat: henteu gampang putus asa jeung henteu gampang jumawa.
Henteu gampang putus asa lamun manggihan kasusah. Dina dunya karya pasti aya tantangan, jeung pasti aya kasusah.
Contona, baheula kolot urang ngalatih budak ku masangkeun benang kana jarum. Éta téh pendidikan dasar pikeun nyiapkeun kana jaman industrialisasi: diajar masangkeun benang kana jarum, diajar nyulam, diajar nenenun. Ari lalaki diajar nganyam.
Nganyam téh ngarangkai alur awi jadi rakitan nu rapih, éndah, jeung miboga nilai estétika spiritualitas.
Abdi sok nyebut yén anyaman awi téh gambaran nu nilaina henteu aya tandinganana, leuwih ti lukisan-lukisan gedé. Éta téh spiritualitas.
Ku kituna, imah awi téh sabenerna imah spiritual.
Struktur imah bambu, sapertos julang apak, ngalambangkeun tritangtu di buana — tilu segi hirup. Ku kituna jalma nu miboga spiritualitas luhur biasana milih imah bambu pikeun ngagambarkeun spiritualitasna.
Naha kudu bambu? Sabab bambu téh tatangkalan spiritual, sangkan paraning dumadi. Ceuk paribasa Sunda: congo nyurup kana puhu.
Bambu téh gambaran kahirupan nu sajati. Dina sagala posisi, bambu miboga nilai estétika. Bambu ogé puncak ékologi.
Di rumpun bambu biasana aya cobra, sabab rumpun bambu téh pusat ékologi. Bambu ogé pohon pangalusna pikeun ngajaga sumber cai.
Ku sabab kitu, urang Sunda henteu ngalambangkeun dirina dina pedang atawa keris, tapi dina bambu: congo nyurup kana puhu.
Ciri peradaban Sunda bisa ditempo tina peradaban bambu. Lamun kebon bambu masih aya jeung kuat, hartina urang Sunda masih aya dina sisi adab.
596-697
Kalau kebun bambunya sudah hilang, maka peradaban Sunda dan orang Sunda sudah hilang dalam peradaban zamannya.
Main-main ini disangka mistik oleh orang padahal ini ekologi. Nah, dari sini cang nyurup karena puja di Sunah itu tidak ada pemisahan ritual spiritual. Dia satu sosial, dia satu kesatuan. Itulah Abah mengajarkan lailahaillallah, itu satu. Jadi tidak ada lagi dalam pandangan saya pemisahan: ini hubungan dengan manusia, ini hubungan dengan Allah, ini hubungan dengan alam.
Bagi saya tidak begitu. Dalam pandangan saya, hubungan dengan manusia adalah kita berhubungan dengan Allah. Berhubungan dengan alam juga berhubungan dengan Allah. Kenapa? Karena dalam manusia ada nur-Nya Allah. Di alam juga ada nur-Nya Allah. Ke mana pun kamu berpaling, di situ wajah Allah. Wajah Allah bukan dipahami sebagai bentuk fisik, tapi nur. Nur itu bisa dilihat dan bisa tidak, tergantung orang punya rasa atau tidak.
Sistem berpikir seperti ini masuk ke orang Sunda, kasihan. Saya selalu mengatakan karunya. Katanya ahli spiritual, tapi besar amarah. Katanya ahli spiritual, tapi suka merendahkan orang lain. Di mana spiritualitasnya? Seakan tidak ada.
Nah, perspektif ini penting. Kalau ingin memasuki era industri, kita harus memulai dari pendidikan dasar. Pendidikan dasarnya di mana? Kalau ingin masuk era industri, SD tidak boleh pegang gadget. Bohong! Kalau ingin masuk ke era industri, SD justru sudah diajarkan gadget. Tidak ada. Di Jepang tidak ada, di Amerika juga tidak ada.
Kenapa di SD itu diajarkan pendidikan dasar: calistung, membaca, menulis, menghitung. Itu semua harus didasarkan pada aspek penalaran. Pendidikan melatih akademik. Maka orang Sunda mengajarkan berbahasa sederhana: lalur mapai ari, lalir mapai ari, lal mapai ari. Itu keterampilan berbicara agar motoriknya berjalan. Buruan kantor pacamat. Buruan kantor pacamat. Batokohok wadah. Batokoh wadah. Itu latihan.
Spiritualitasnya diajarkan oleh ibunya. Ciluk ba, ciluk ba, ciluk ba. Lihat wajah ibumu, itu adalah wajah Tuhanmu yang telah diutus untuk menyayangimu. Jangan dipotong-potong, saya kasih tahu. Nanti ribut lagi saya. Gara-gara ada yang memelintir, saya jadi harus ngomong begini.
Artinya apa? Ibu mewakili Tuhan untuk menyayangi anaknya. Maka doa yang terbaik adalah doa ibunya.
Saya ini sering dituduh klenik sampai hari ini, gara-gara pakai ikat kepala, saya dituduh dukun. Padahal memang saya dukun, karena kalau duduk saya tekun. Hanya “dukun” yang akan memenangkan pertarungan: orang yang duduk dan tekun.
Kenapa saya ini orang yang cukup dengan doa ibu saya saja? Sampai hari ini pun saya masih begitu. Di WA saya banyak yang ngajak aneh-aneh: “Pak, kudu mencit munding.” Saya bilang, saya mah tiap bulan juga begitu. “Pak kudu mandi di tujuh tampian.” Saya mah tiap hari juga mandi. “Pak kudu diwirid dulu.” Saya mah tiap hari juga wirid. Saya tuh bandel, Pak, tidak mau ikut-ikut begitu. Dari dulu saya tidak percaya.
Kenapa? Karena kalau dia benar-benar ahli pelet, istrinya pasti cantik. Kalau dia ahli pelet, pacarnya juga cantik. Kalau dia bisa bikin orang jadi lurah atau bupati, kenapa tidak mencalonkan dirinya sendiri?
Sederhana, tetapi aspek ini sudah diambil alih secara ilmiah. Saya percaya yang ilmiah.
Siapa survei?
698-798
Saya orang yang menggunakan metodologi akademis ini sebagai standar. Jadi, saya tidak ada yang namanya bohong. Kalau ada orang yang jadi dukun, saya tidak percaya. Saya sendiri termasuk yang tidak punya pangguron. Guru saya adalah alam, semua ini adalah guru saya.
Dukun saya siapa? Ya, ibu saya sendiri. Dan saya meyakini, walaupun ibu saya sudah tiada dan hanya kuburannya yang tersisa, bagi saya beliau tetap ada di hati saya dan selalu memberikan panduan. Itu yang saya rasakan. Sudahlah, boleh dong saya punya keyakinan pada ibu saya.
Nah, pendidikan ini harus dibangun. Mengapa? Karena kalau kita bicara era industri, itu terlalu tinggi. Faktanya, di era hari ini, anak-anak SD, sepuluh tahun ke depan, kita akan menghadapi generasi yang tidak sabaran. Yang kalau ada kesulitan, mudah frustrasi. Kalau ada kesusahan, mudah mabuk. Kalau ada masalah, mudah lari ke narkoba. Kenapa? Karena sejak kecil mereka tidak lagi diajarkan kesabaran.
Tulisan jelek itu tidak apa-apa. Memang tulisan bagus bisa dengan komputer. Saya tahu. Tapi saya termasuk orang yang sampai hari ini tulisannya jelek. Maka saya ganti dengan metode lain, agar saya bisa melatih kesabaran.
Kenapa hidup saya banyak tekanan, banyak yang menghina, mencaci, mengejar, tidak pernah berhenti? Saya tahu betul, itu Allah yang mengatur. Karena sejak kecil saya memang tidak sabaran, maka Allah memberi tekanan agar saya belajar sabar. Itu sebabnya saya selalu berterima kasih kepada orang yang menghina saya. "Nuhun tos ngahina abdi." Sebab, Persib juga hanya bisa juara kalau menang lawan Bali United.
Artinya apa? Kita tidak boleh membenci lawan atau rival, karena justru dari mereka kita bisa menjadi juara. Sama halnya dengan guru yang galak. Kalau lulus kuliah, carilah guru yang paling galak, paling bawel, paling banyak memberi tugas. Ucapkan terima kasih kepada mereka, karena merekalah yang paling menyayangi kita.
Sebaliknya, guru yang membiarkan muridnya menyontek, bolos, malas, itu bukan guru sejati, tapi hanya jadi "pujaan" sementara. Guru galak justru akan menjadi kenangan yang berharga. Bahkan, berbahagialah punya istri galak, karena sesungguhnya ia sedang menjaga dan mengajarkan kita tentang kebaikan.
Saya sendiri padepokannya tidak perlu jauh-jauh atau tinggi-tinggi. Abah TQN mengajarkan kesabaran, dan itu sudah warisan yang nyata.
Sekarang anak-anak SD sudah diajarkan menghitung. Ini penting. Coba lihat orang Jepang, kenapa mereka maju? Karena huruf mereka, kanji, rumit. Membuatnya sulit, butuh keuletan. Samurai juga, pedang terbaik di dunia. Apakah samurai dibuat dengan mesin? Tidak. Apakah didigitalisasi? Tidak. Samurai tetap ditempa dengan tangan yang penuh kesabaran.
Begitu pula spiritualitas, tidak bisa diwakilkan oleh mesin atau orang lain. Doa tidak bisa diwakilkan, hanya ceramah yang bisa.
Maka di perguruan atau padepokan, sejak SD, jangan hanya dijejali akademik. Ajarkan juga keterampilan: menganyam tikar, membuat bilik, meraut sapu, membuat simpai, menganyam hoe, pandai besi, sampai mencangkul. Di situlah spiritualitas ditempa. Kalau ini hilang, maka pendidikan spiritual juga hilang.
799 - 904
Nah, ditempa di situ. Kemudian, ketika SMP mulai masuk setengah digital, SMA sudah tiga perempat digital, dan di perguruan tinggi sepenuhnya digital.
Kenapa begitu? Karena sejak awal mereka sudah ditempa kendali diri yang kuat, punya ketajaman, dan tidak mudah putus asa. Jadi, ketika kelak menghadapi masalah besar—sulitnya persaingan industri, beratnya mengejar target produksi, tuntutan harga yang harus efisien, bahan baku yang berkualitas, dan strategi pemasaran yang tepat—mereka tidak mudah runtuh.
Namun, manusia punya sisi batin. Ketika mentok menghadapi tembok persoalan, tidak semua orang bisa mencari jalan keluar dengan sehat. Orang Jepang misalnya, karena depresi pekerjaan dan target yang tinggi, malamnya mereka mencari pelarian dengan minum sake. Tapi mabuknya tidak merusak tubuh karena sake Jepang murni. Malam mabuk, besok paginya tetap bisa bekerja segar, pulang pun ditangani dengan baik oleh istrinya.
Di Indonesia beda. Yang mabuk justru orang yang tidak punya pekerjaan. Akhirnya, bukan sekadar mabuk karena stres kerja, tapi mabuk karena frustrasi tidak bekerja. Itulah bedanya.
Maka, orang Sunda punya cara tersendiri. Kalau mentok, kembali ke diri, menenangkan hati, lalu besok melangkah lagi. Tidak sekadar dipecahkan dengan logika akademik, tapi dengan rasa. Itulah metodologi yang sejak kecil saya pegang sampai sekarang.
Saya pernah memimpin Purwakarta. Saat itu saya berani mengambil keputusan yang bagi orang lain dianggap “atraksi”. Pendapatan daerah hanya Rp800 miliar, tapi saya targetkan jadi Rp1,5 triliun. Dasarnya apa? Dari hati.
Siapa guru ekonomi saya? Bukan lulusan UI, bukan sarjana. Guru ekonomi saya adalah ibu saya sendiri, yang sekolah SD kelas satu pun tidak tamat. Beliau punya sembilan anak, dengan suami berpenghasilan kecil, sawah hanya seperempat hektar, tapi bisa menyekolahkan semua anaknya sampai kuliah tanpa menjual tanah sejengkal pun. Bagi saya, ibu saya adalah profesor sejati.
Itu sebabnya saya percaya bahwa pendidikan bukan hanya soal teori akademik, tapi juga keyakinan dan pengalaman hidup. Saya belajar dari ibu, belajar dari kiai. Dan saya selalu menekankan, kalau hanya menghabiskan anggaran sesuai pos yang sudah ada, itu tidak perlu S2 atau S3. Yang dibutuhkan adalah keberanian, keyakinan, dan rasa tanggung jawab.
Makanya, kalau saya masuk kantor pemerintahan dan melihat ruangan kotor, cat mengelupas, kaca pecah, saya langsung tegur: “Bereskan! Jangan menunggu APBD. Kalian bisa membiayai anak sekolah, bisa bangun rumah, padahal gaji kecil. Dari mana uangnya? Kalau untuk rumah bisa, kenapa untuk kantor tidak bisa?”
905 - 999
Enggak bisa.
Saya ingin memberi tahu bagi siapa pun yang ingin meniti karier: kalau Anda ingin berhasil, maka tempat yang harus Anda muliakan, yang harus Anda junjung tinggi dan hormati, adalah tempat di mana Anda bekerja.
Kalau Anda jadi pegawai, maka meja yang Anda duduki itu harus meja yang terbaik. Kalau perusahaan tidak menyiapkan, negara tidak menyiapkan, buatlah di rumah meja terbaik dan bawa ke ruang kerja Anda. Kenapa? Karena rezeki Anda ada di tempat ini. Muliakan tempat ini. Kebiasaan bangsa kita adalah mengambil rezeki di sini, tetapi menjelek-jelekkan tempat kerjanya. Itu suul adab.
Saya mengajarkan, yang kedua adalah pakaian yang kita gunakan ketika bekerja haruslah pakaian terbaik dan bahkan termahal. Kalau Anda seorang profesional, gunakanlah pakaian terbaik dan termahal. Kenapa? Karena rezeki Anda diperoleh dari tempat Anda bekerja dengan pakaian yang Anda pakai.
Logikanya begini: kalau mewakili Yayasan Suryalaya, memakai kemeja seharga Rp1 juta, jas mahal, lalu datang mengantarkan proposal, orang yang melihat akan menilai bonafid. Tetapi kebanyakan kita terbalik. Kenapa warung di Indonesia tidak pernah berkembang? Karena warungnya lebih jelek dibanding rumahnya. Kenapa rumah makan kita juga banyak yang tidak berkembang? Karena ketika berhasil, pemilik lebih memilih membangun rumah mewah untuk anaknya daripada memperbaiki rumah makannya. Padahal seharusnya toiletnya bersih, tempat duduk diganti tiap tahun, lampunya harus nyala. Akhirnya kita kalah dengan orang-orang Cina. Mereka selalu mengutamakan tempat jualan dan tempat kerja dibanding rumahnya.
Ini prinsip manajemen penting. Kenapa? Karena hidup kita lebih banyak dihabiskan di tempat kerja dibanding di rumah. Saya katakan sekali lagi: hidup kita lebih banyak dihabiskan di tempat kerja. Mohon maaf kalau saya memilih mobil yang lebih nyaman, karena waktu saya lebih banyak dihabiskan di dalam mobil. Di mobil saya lengkap ada kasur dan bantal, karena memang di situlah waktu saya banyak habis.
Jadi, rumah yang harus paling bagus apa? Kamar dan kamar mandi. Ruang tamu tidak perlu terlalu mewah. Kamar dan kamar mandi itu penting, karena Anda menghabiskan waktu untuk istirahat di kamar. Yang harus paling mahal apa? Kasur.
Baju yang harus paling bagus apa? Celana dalam. Perempuan yang harus paling mahal apa? Apakah kebaya? Bukan. Celana dalam dan BH. Kenapa? Karena itu yang paling dekat dengan tubuh Anda dan menjamin kesehatan Anda. Dari situ pula terpancar kebahagiaan suami Anda.
Jangan sampai saat wisuda pakai baju bagus, tetapi ketika berdua dengan suami, pakaian dalamnya bolong. Hal-hal kecil seperti ini adalah bagian dari manajemen diri, soft skill. Kita harus memulai dari hal-hal kecil.
Saya juga ingin menekankan tentang ketepatan waktu. Saya termasuk orang yang otaknya sudah terjadwal: jam segini harus di sini, jam segini di sini, jam segini di sini.
1000 - 1107
Sejak kecil saya sudah terformat. Kenapa? Karena orang yang selalu tepat waktu itu pasti berhasil, tidak pernah gagal. Ketepatan waktu adalah kunci.
Dan yang terakhir, pekerjaan itu sejatinya adalah spiritualitas. Karena itu, ketika saya bekerja, saya menjalaninya sebagai spiritualitas kebahagiaan. Oleh sebab itu saya tidak mau masuk ke dalam SOP pekerjaan yang membebalkan. Misalnya, diatur harus pakai baju tertentu, harus berpidato dengan teks—saya tidak bisa, saya harus merdeka.
Dengan cara itu, alhamdulillah, saya tetap sehat. Dua puluh tahun saya tidak pernah minum obat kimia, tidak mengenal dokter. Kenapa? Karena saya percaya bahwa yang menyembuhkan diri kita adalah diri kita sendiri. Dokter terbaik bagi kita adalah diri kita sendiri.
Hari ini saya mengucapkan terima kasih dan selamat milang kala. Dalam bahasa santri disebut milad, kalau dalam bahasa Sunda disebut milang kala. Milang artinya menghitung, kala artinya waktu. Jadi, milang kala berarti hari introspeksi. Semoga introspeksi hari ini membawa kemajuan.
Kalau saya terpilih jadi gubernur, saya pasti akan memperhatikan pusat-pusat spiritualitas di Jawa Barat. Saya juga akan menyusun naskah akademik tentang tokoh-tokoh hebat Sunda. Karena kelemahan orang Sunda adalah sering dimistifikasi. Akhirnya sulit memahami tokoh seperti Abah Anom sebagai seorang intelektual, padahal beliau sangat intelektual.
Nanti tokoh-tokoh hebat itu harus diakademisasi, ditulis dalam buku akademik, bukan hanya diceritakan oleh nini-nini dan aki-aki. Sebab orang Barat berfikir akademik dengan otak, sedangkan orang Sunda dengan hati. Dalam bahasa Sunda, hati disebut ambu, manah, maneh, galeh, galuh. Itu sebabnya kita mengenal sebutan Sunan Ambu.
Prinsip saya sederhana: ulah sok nganyarikeun Sunan Ambu [Jangan suka menyombongkan diri di hadapan Sunan Ambu]—jangan suka merusak alam, karena itu sama saja dengan menyakiti ibu kita sendiri. [👉 Sunan Ambu adalah tokoh mitologi Sunda yang dipandang sebagai ibu atau dewi yang bijaksana].
Semoga perguruan ini semakin berkembang dan kelak bisa menjadi universitas—Universitas Suryalaya. Mari kita bangun kepercayaan diri, karena leluhur kita adalah orang-orang saleh dan unggul. Hanya saja mereka tidak meninggalkan tulisan. Itulah bedanya dengan bangsa Barat. Sokrates, Plato, mereka ditulis sehingga jadi lisensi peradaban. Sedangkan urang Sunda mah teu agul (Orang Sunda itu tidak sombong) —tidak membanggakan diri, sehingga karya tidak terdokumentasi, akhirnya diakui orang lain.
Kini kita sudah masuk abad industri, maka Suryalaya harus kembali menjadi pusat kecemerlangan orang Sunda yang menekuni ajaran spiritualitas sufi yang Islami.
Comments
Post a Comment